“Warung Samber Nyowo”: Ketika Piring Menjadi Cermin Kiamat Ekosistem
Animal Friends Jogja (AFJ) mengguncang publik lewat instalasi “Warung Samber Nyowo” dalam Festival Kiamat Ekosistem. Lewat karya satir, AFJ menyoroti kekejaman di balik konsumsi daging anjing dan ayam petelur, menyerukan perubahan menuju hidup tanpa kekerasan terhadap hewan.
Di tengah hiruk pikuk festival dan tawa manusia, Animal Friends Jogja (AFJ) membuka sebuah ruang sunyi yang menampar nurani: Warung Samber Nyowo.
Bukan warung biasa—ini adalah altar satir tentang dosa ekologis yang kita santap setiap hari, berdiri di antara karya-karya Festival Kiamat Ekosistem di Omah Lor Project, Yogyakarta, 1–3 Agustus 2025.
Setiap hidangan di warung ini bukan sekadar menu, tapi metafora penderitaan.
-
Ada “Rica-Rica Sahabat”, yang menyuarakan tragedi perdagangan daging anjing,
-
Ada “Nasi Telur Ceplok Penuh Trauma”, kisah ayam-ayam petelur yang hidup tanpa langit,
-
Dan ada “Sayur Nabati Welas Asih”, bukti bahwa kasih sayang bisa disajikan tanpa darah melalui kerja sama dengan Nabati Nusantara.
Tagline terpampang di instalasi, berisi kalimat-kalimat tajam seperti belati:
“Kami Terpenjara Seumur Hidup Demi Sepiring Sarapanmu.”
“Welas Asih Dimulai dari Isi Piringmu.”
Bagi sebagian orang, mungkin ini hanya seni. Tapi bagi mereka yang berani menatap lebih dalam, di sanalah kebenaran berdenyut, lirih namun tegas:
di balik setiap suapan, ada kehidupan yang dikorbankan.
Pada 2 Agustus 2025, AFJ angkat bicara dalam panel diskusi “Relasi Manusia dan Hewan di Tengah Kiamat Ekosistem.” Panel ini menghadirkan 'suara-suara' yang selama ini tenggelam di bawah tumpukan kenyamanan manusia:
- Elsa Lailatul dari Dog Meat Free Indonesia (DMFI) mengungkap kejamnya rantai perdagangan daging anjing;
- Indira Nurul dari Centre for Orangutan Protection menyoroti lenyapnya hutan dan rumah bagi satwa liar;
- dan Elly Mangunsong dari Animal Friends Jogja menyingkap derita ayam petelur yang hidup di kandang sempit tanpa pernah mengenal kebebasan.
Diskusi ini dimoderatori oleh drh. Amanda dari Asia for Animals, yang mengingatkan bahwa krisis ekosistem bukan semata tentang alam yang rusak, tetapi tentang hubungan yang terputus antara manusia dan makhluk lainnya.
Partisipasi AFJ dalam FKE 2025 adalah pengingat pahit: kiamat ekosistem bukan datang tiba-tiba dari langit, ia tumbuh dari meja makan kita sendiri. Setiap kali kita memilih tanpa empati, kita ikut menulis bab baru dalam kisah kehancuran bumi. Namun sebaliknya, setiap langkah welas asih, sekecil mengganti satu menu, adalah benih keselamatan. Karena dunia tak butuh lagi manusia yang pintar berbicara soal cinta alam, dunia butuh manusia yang berani hidup tanpa menyakiti yang lain.
Mari mulai dari piring kita. Karena setiap pilihan yang kita ambil hari ini, menentukan seperti apa wajah bumi esok hari.
