SKNC Pekalongan 2026: Hewan Bukan Properti! Ketakutan Hewan Tidak Pantas Menjadi Bagian dari Karnaval
Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) merupakan karnaval rakyat yang diselenggarakan setiap tahun di Desa Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Perhelatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus tradisi khitanan massal masyarakat setempat. Bukan sesuatu yang baru, SKNC sudah berlangsung selama puluhan tahun. Dan tahun ini memasuki tahun ke-61.
SKNC 2026 Digelar Pada 10 September 2026. Sebanyak 25 barisan dari 25 musala hadir membawa kreasi masing-masing: parade busana, kesenian tradisional, drumband, ogoh-ogoh, hingga sound horeg. Namun, ada satu pemandangan yang membuat kita perlu berhenti menyebut semuanya sekadar hiburan: Seekor kambing hidup diarak di tengah kerumunan, cahaya, kostum, dan suara yang menggelegar.
Batas Antara Ilusi dan Penderitaan Mulai Runtuh
Berdasarkan sejumlah pemberitaan media mengenai rangkaian adegan tersebut:
- Kambing hidup tersebut disembelih di tengah kerumunan penonton, ketika pertunjukan dan pengeras suara masih berlangsung
- Penyembelihan dilakukan tanpa memutus kepala sepenuhnya dari tubuh kambing.
- Kepala kambing berdarah yang kemudian diangkat di hadapan penonton bukan berasal dari kambing tersebut, melainkan dibeli secara terpisah dari pasar. Alasan dilumuri darah adalah untuk memperkuat kesan mengerikan dalam pertunjukan.
Kebebasan Berkarya Tidak Pernah Menghapus Tanggung Jawab Etis
Hewan tidak mengenal panggung dan tidak memahami bahwa semua itu dirancang untuk menghibur manusia. Apa yang dianggap manusia sebagai atmosfer, bisa dialami hewan sebagai ancaman nyata. Masih layakkah sesuatu disebut kreativitas ketika daya kejutnya bergantung pada ketidakberdayaan makhluk lain?
Tepuk Tangan Bukan Kompas Moral!
Manusia kerap merasa berhak membawa makhluk lain (hewan) ke dalam penderitaan yang tidak pernah mereka pilih, lalu menjadikan kegembiraan penonton sebagai pembenaran. Kesenangan penonton hanya menjelaskan bagaimana mereka bereaksi. Tidak membuktikan bahwa cara yang digunakan untuk menciptakannya dapat dibenarkan. Sebab yang bersorak dan yang menanggung akibatnya adalah dua pihak yang berbeda.
Manusia sering kali menciptakan hiburan dan menikmatinya, sementara makhluk lain dijadikan alat karena dianggap tidak mampu melawan. Kesenangan penonton bukan alat untuk membungkam pertanyaan tentang apa yang mungkin dirasakan hewan tersebut. Kalau alasan “banyak yang senang” dijadikan pembenaran,maka eksploitasi satwa dalam sirkus, atraksi wisata/kebun binatang, dan berbagai pertunjukan tidak akan pernah dianggap bermasalah; bukankah semuanya juga pernah dipenuhi tepuk tangan? Sejarah hiburan manusia dipenuhi atraksi yang dahulu disambut tepuk tangan, kemudian kita sadari dibangun di atas penderitaan makhluk lain.
Kreativitas memiliki kemampuan untuk menciptakan ‘ketakutan’ tanpa harus menciptakan penderitaan makhluk hidup. Ketakutan makhluk hidup BUKAN harga yang layak dibayar demi membuatnya terasa nyata. Darah dapat direkayasa. Ketegangan dapat diciptakan. Kengerian dapat dibangun tanpa menyeret makhluk hidup ke dalamnya. Artinya, melibatkan hewan hidup bukanlah kebutuhan artistik, melainkan pilihan yang sepenuhnya dapat dihindari.
HEWAN BUKAN HIBURAN! HEWAN BUKAN PROPERTI!
