wrapkit

Perdagangan Primata di Indonesia Masih Mengkhawatirkan: Mulai Edukasi Sekitarmu!

Sempat viral pada awal Januari lalu, sebuah video Tiktok dari pengguna dengan username @nhdazhr dengan ribuan followers yang membagikan pengalamannya membeli bayi monyet (Macaca nemestrina) untuk dipelihara. Bahkan, bayi monyet tersebut disebutkan didapatkan dengan melakukan transaksi menggunakan sistem COD (Cash On Delivery). Video ini mendapat beragam respon, sayangnya beberapa menganggap hal tersebut adalah sesuatu yang lumrah. Beberapa aktivis kesejahteraan satwa dan organisasi pelindung satwa tidak tinggal diam. Mereka segera memberikan edukasi kepada pengunggah video tersebut dan mengarahkan agar bayi monyet itu segera diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat. 

Beruntung pihak yang bersangkutan tidak bersikap defensif dan segera menyerahkan bayi monyet yang ia beli ke Lembaga BKSDA yang ada di daerahnya. Pengunggah video monyet tersebut juga mengakui kesalahannya dan memberi edukasi tentang pelarangan satwa liar ke ribuan pengikutnya. Hal ini dapat menjadi gambaran bagaimana kesadaran masyarakat tentang perdagangan satwa liar termasuk primata masih rendah di Indonesia. Pun juga bagaimana pelaku perdagangan satwa secara ilegal hanya mendapatkan tuntutan hukum yang lemah. 

Monyet sendiri pada hakikatnya adalah satwa liar yang tidak bisa dijadikan satwa dampingan. Sifat kalem dan tidak agresif mungkin terlihat pada bayi monyet. Tapi begitu mereka memasuki usia sekitar 3 tahun, sifat mereka akan berubah menjadi lebih agresif, tidak dapat diprediksi, dan berbahaya. Para monyet dapat menggigit dan mencakar sebagai proyeksi sifat dominasi mereka. Selain itu, monyet dapat membawa parasit dan penyakit zoonosis yang bisa mengancam nyawa manusia. Dan yang paling penting, membeli monyet adalah sebuah bentuk dukungan untuk perdagangan satwa liar. Secara langsung akan memberi dorongan pada primate breeders untuk melanjutkan lingkaran setan tersebut mengingat banyaknya permintaan pasar pada bayi monyet.

Tidak jarang ketika para pemilik monyet menganggap diri mereka sudah tidak lagi mampu merawat, para monyet akan dilepaskan secara lalai dan ceroboh. Akibatnya, sering terjadi konflik antara monyet dengan manusia. Tindak pidana tentang perdagangan satwa liar telah diatur dalam Undang Undang No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Meskipun begitu, perdagangan satwa liar masih bisa kita temukan di Indonesia. Sedangkan jika dibiarkan, perdagangan satwa liar dapat menjadi ancaman terhadap keseimbangan ekosistem makhluk hidup di alam. Sebagian satwa liar yang diperdagangkan juga termasuk dalam kategori terancam punah. Perdagangan satwa liar pun masih dilakukan dengan modus operandi secara konvensional seperti penjualan di pasar tradisional hingga perdagangan di media sosial. Selain itu, pada dasarnya ini melanggar prinsip kesejahteraan satwa dan dapat mengancam keselamatan masyarakat.

wrapkit

We are simply friends who share similar views on treating non human animals with the respect and compassion they so rightly deserve.

Including the right to live free from unnecessary suffering and exploitation.

Reach us on Social Media

Our location is strictly unpublished due to safety and educational reason. To visit us, please make an appointment by sending us a request email. Make sure you have read our FAQ section before sending an email. It might need time until we finally keep-in-touch

This site is donated by Oninyon Software Solution - PT. Oninyon Revolusi Kreatif Indonesia