wrapkit

Pandemi Covid-19 Belum Usai, Begitu Juga Perdagangan Satwa Liar

Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga sekarang tidak juga membuat tingkat konsumsi kuliner ekstrim turun. Padahal para ilmuwan telah menelisik titik awal untuk menemukan sumber penyebab pandemi, kemungkinan besarnya jatuh pada pasar satwa liar atau wet market yang ada di Wuhan, Tiongkok. Pasar satwa liar adalah pasar khusus yang menjual satwa liar yang tidak lazim untuk dikonsumsi, seperti trenggiling, ular, monyet, anjing, kelelawar, dan lain-lain.

Bukan sekali ini saja pasar satwa liar menjadi penyebab pandemi. Sebelumnya pada tahun 2002, sebuah pasar satwa liar di Tiongkok lagi-lagi menjadi titik awal penyebaran penyakit SARS hingga ke 29 negara. Sayangnya, pasar satwa liar dapat kita jumpai di mana saja, salah satunya di Indonesia. Melupakan fakta bahwa virus yang pada dasarnya menyerang hewan liar dapat berpindah dan menginfeksi manusia. Satwa liar yang dikonsumsi pun kerap mendapat perlakuan yang tidak semestinya; satwa dampingan yang dicuri, dikurung dalam kandang sempit, melalui perjalanan yang panjang, dan dibantai dengan kejam.

Tidak hanya menyebabkan munculnya virus baru, pasar basah dan perdagangan satwa liar adalah salah satu faktor yang memudahkan virus-virus lain untuk menginfeksi manusia. Sebagai contoh, pada tanggal 17 Oktober 2020 Jakarta Animal Aid Network mendokumentasikan pengiriman anjing yang akan dikirim dari Pulau Jawa menuju Pulau Sumatera melalui jalur darat. Dari rekaman dapat terlihat bahwa anjing-anjing diangkut menggunakan cara yang sangat tidak manusiawi; dengan ruang gerak terbatas, ketidaksediaan makanan dan minuman, paparan sinar matahari, dan polusi udara dari kendaraan disekitarnya. Kenyataan bahwa mereka harus merasakan hal tersebut selama tiga hari kedepan selama masa perjalanan tidak bisa dibayangkan oleh siapapun.

Perpindahan anjing menggunakan cara seperti ini adalah salah satu faktor yang membuat resiko penyebaran virus rabies meningkat. Status kesehatan anjing menjadi tidak diketahui setelah melakukan perjalanan panjang yang jauh. Bahkan bila terus dibiarkan, tentu sektor pariwisata di Indonesia dapat merasakan efek dominonya. Karena selain menjadi ancaman masyarakat setempat, rabies juga dapat mengancam wisatawan dari luar yang datang berkunjung ke Indonesia.

Tingkat konsumsi satwa liar dan anjing masih tinggi dan marak di sekitar kita. Tentu bila hanya menunggu pemerintah, kita tidak dapat benar-benar menyingkirkan perdagangan kejam ini.  Pandemi Covid-19 ini ini pun menjadi yang tepat untuk melakukan refleksi. Bila tidak ada perubahan, mungkin kita harus bersiap diri menghadapi virus-virus yang akan muncul di kemudian hari. Kamu dapat mencegah penyebaran virus dengan membantu anjing-anjing dan satwa liar lain untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak dengan menyuarakan suara mereka disini.

wrapkit

We are simply friends who share similar views on treating non human animals with the respect and compassion they so rightly deserve.

Including the right to live free from unnecessary suffering and exploitation.

Reach us on Social Media

Our location is strictly unpublished due to safety and educational reason. To visit us, please make an appointment by sending us a request email. Make sure you have read our FAQ section before sending an email. It might need time until we finally keep-in-touch

This site is donated by Oninyon Software Solution - PT. Oninyon Revolusi Kreatif Indonesia