wrapkit

Memperingati World Day for the End of Fishing, Hari Akhiri Penangkapan Ikan Sedunia 2021

Kapal penangkapan ikan dan peternakan ikan telah membunuh lebih dari tiga miliar hewan akuatik, dan itu terjadi setiap hari di seluruh dunia. Tahun ini, peringatan World Day for the End of Fishing jatuh pada hari Sabtu, 27 Maret 2021. "World Day for the End of Fishing" atau Hari Akhiri Penangkapan Ikan Sedunia merupakan kampanye internasional yang diluncurkan oleh aktivis yang memperjuangkan hak-hak hewan yang menuntut diakhirinya praktik penangkapan hewan akuatik. World Day for the End of Fishing diadakan setiap tahun, tepatnya pada hari Sabtu terakhir di bulan Maret. Mengapa praktik penangkapan ikan secara besar-besaran perlu dihentikan?

Mengancam Kesehatan Ekosistem Laut

PBB mengungkap bahwa kesehatan ekosistem laut semakin terancam karena penangkapan ikan secara besar-besaran (berlebihan) serta penangkapan ilegal. Sekitar sepertiga (64%) sumber daya perikanan diklasifikasikan sebagai penangkapan ikan yang berlebihan dan 23% lainnya telah tereksploitasi sepenuhnya.

Jika eksploitasi ini dibiarkan terus terjadi maka tidak akan ada lagi ikan yang tersisa di lautan pada tahun 2048. Demikian yang dipaparkan oleh penelitian dari University of Halifax.

​Polusi dari kegiatan penangkapan ikan secara besar-besaran merupakan sebuah masalah besar. Diperkirakan sekitar 600 dan 800 ton jaring ikan yang dibuang berakhir di laut setiap tahun, dan material ini membutuhkan waktu hingga 600 tahun agar dapat terurai.

Sedangkan polutan organik yang persisten (bahan kimia organik) akan tetap utuh di lingkungan bawah laut dalam jangka waktu yang lama, tersebar luas secara geografis, terakumulasi secara biologis pada rantai makanan dengan menumpuk di jaringan lemak hewan, dan BERACUN BAGI MANUSIA, satwa liar serta lingkungan. (Bidleman and Harner, 2000; IOM, 2003; UNEP Global Environmental Facility, 2003; Robson dan Hamilton, 2005).
 

Mengancam Kesehatan Manusia yang Mengonsumsi Makanan Laut

Sebagai akibatnya, kehidupan laut termasuk hewan akuatik terkontaminasi oleh patogen parasit, bahan kimia (termasuk senyawa anorganik seperti metilmerkuri), timbal, merkuri, dan kadmium terutama yang berada di puncak rantai makanan seperti marlin, tuna, hiu, ikan pedang dan king mackerel atau surmai. Methylmercury menyerang organ saraf pusat dan sistem kardiovaskular.

Bukan hanya itu, bakteri dari spesies vibrio, salmonella, shigella, Clostridium botulinum, Staphylococcus aureus, Clostridium perfringens dan Bacillus cereus juga mencemari hewan akuatik (membawa virus menular seperti virus norovirus dan hepatitis A, yang menyerang hati).

Apakah Ikan Bisa Merasakan Sakit?

Hewan akuatik memang berbeda dengan kita, manusia. Namun bukan berarti hewan laut tidak berharga. Sejumlah penelitian yang dilakukan beberapa tahun terakhir ini menunjukkan bahwa hewan akuatik dapat merasakan sakit dan bereaksi terhadapnya.

Michael Stoskopf, adalah profesor akuatik, satwa liar, dan kedokteran zoologi serta toksikologi molekuler dan lingkungan di North Carolina University menjelaskan bahwa "asumsi ikan tidak bisa merasakan sakit" adalah kesalahan yang tak bisa dibenarkan.

Dr. Culum Brown dari Macquarie University, meninjau hampir 200 makalah penelitian tentang kemampuan kognitif dan persepsi sensorik ikan. Ia mengungkapkan bahwa ikan mengalami stres ketika ia ditarik dari air ke kapal (ataupun daratan) -baik dengan jaring maupun pancing- dimana mereka tidak dapat bernapas.

Berbeda ketika manusia tenggelam di air, proses kematian berada dalam kurun waktu sekitar 4–5 menit karena manusia tidak dapat mengekstraksi oksigen dari air. Sedangkan ikan dapat bertahan tanpa air lebih lama, hingga 4 jam. Itu artinya proses kematian ikan harus tersiksa dalam hitungan jam.

Praktik Kekejaman Hewan di Industri Perikanan

Apakah penderitaan mereka cukup sampai disana? Tentu tidak! Mereka merasakan kekejaman dan penderitaan yang cukup panjang untuk sampai di meja makan kita. Mereka sesak napas sekitar 4-5 jam setelah dijaring, keracunan CO2 saat berada dalam penjagalan, dibiarkan dipotong berdarah-darah dan dikuliti secara hidup-hidup, atau dengan metode kejam lainnya

Lalu, bagaimana dengan sekumpulan hewan akuatik yang berada pada industri akuakultur? Apakah praktek akuakultur lebih berkelanjutan dibandingkan dengan aktivitas penangkapan ikan?

Menurut Fernanda, Direktur Kebijakan Pangan dan Kesejahteraan Hewan Sinergia Animal, budidaya ikan, udang, dan jenis hewan air lainnya sebenarnya bisa lebih berbahaya dan juga bertanggung jawab atas menipisnya keanekaragaman hayati di lautan.

Ikan terbukti mampu merasakan sensasi dan emosi. Jika dibiarkan dibesarkan di dalam ruang yang sempit, mereka mengalami sesak dan stres, sebab tidak bisa mengekspresikan perilaku alaminya. Itulah yang dirasakan oleh hewan laut begitu berada di penangkaran dengan kondisi air kotor yang terkontaminasi parasit dan antibiotik.

“Tambak Ikan sering kali terdiri dari kolam yang kotor, dengan kualitas air yang buruk, atau di laut atau danau, ikan menjadi sasaran segala jenis penyakit dan dimakan hidup-hidup oleh segala jenis parasit, mulai dari kutu laut parasit hingga jamur dan virus,” imbuh Fernanda.

Demi keseimbangan ekosistem serta keberlangsungan hidup bumi dan manusia, budaya penangkapan dan eksploitasi hewan akuatik secara besar-besaran tidak bisa dibiarkan. Masyarakat perlu mempertimbangkan kembali apa yang sudah dipilih untuk dikonsumsi (seafood).

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mengubah? Setelah mengetahui seluruh informasi diatas, penting bagi masyarakat untuk mengetahui alternatif lain. Dengan meninggalkan produk hewani termasuk hewan laut dari menu harian, kamu sudah turut membantu melindungi ekosistem laut dan peduli akan kesehatanmu sendiri.

Sekarang, pilihan ada padamu : bersedia menerapkan pola hidup yang lebih sehat dengan pola makan berbasis nabati atau mengabaikannya?

Bantu lindungi satwa, berbagi kebaikan dan bersikap welas asih

wrapkit

We are simply friends who share similar views on treating non human animals with the respect and compassion they so rightly deserve.

Including the right to live free from unnecessary suffering and exploitation.

Reach us on Social Media

Our location is strictly unpublished due to safety and educational reason. To visit us, please make an appointment by sending us a request email. Make sure you have read our FAQ section before sending an email. It might need time until we finally keep-in-touch

This site is donated by Oninyon Software Solution - PT. Oninyon Revolusi Kreatif Indonesia