Kentut Sapi: Salah Sapinya atau Salah Siapa?
Ah, kentut bukan satu-satunya hal yang perlu kita obrolin. Tahu nggak, sapi ternyata lebih banyak mengeluarkan metana lewat sendawa, bukan kentutnya. Tapi sebelum kita menyalahkan sapi yang bahkan nggak bisa ikut debat, ada baiknya kita kenalan dulu sama si metana ini, ya.
Sapi, kambing, domba, dan kerbau termasuk hewan ruminansia. Mereka punya sistem pencernaan dengan rumen, tempat makanan difermentasi oleh mikroorganisme. Proses alami ini menghasilkan gas metana (CH₄), yang sebagian besar dilepaskan lewat sendawa. Metana juga dihasilkan dari kotoran ternak, juga kentutnya. Masalahnya, metana bukan sekadar gas yang bikin udara nggak nyaman. Dalam periode 20 tahun, daya pemanasan metana sekitar 80 kali lebih besar daripada CO₂ untuk massa yang sama. Jadi, meskipun jumlahnya lebih sedikit di atmosfer, dampaknya terhadap pemanasan global nggak bisa disepelekan. (IPCC, Sixth Assessment Report)
Menurut FAO, sekitar 32% emisi metana akibat aktivitas manusia berasal dari pencernaan ternak dan pengelolaan kotorannya. Ini bukan angka yang bisa dianggap angin lalu. Apalagi, emisi peternakan nggak berhenti di urusan sendawa. Ada produksi pakan, penggunaan energi, transportasi, sampai pembukaan lahan untuk peternakan dan tanaman bahan baku pakan. Ketika hutan dibuka, karbon yang tersimpan di dalam ekosistem juga bisa terlepas ke atmosfer. Jadi, ternyata urusannya bukan cuma sapi yang kebanyakan sendawa atau kentut. Ada satu sistem besar di belakangnya.
TERUS, SALAH SAPINYA ATAU SALAH SIAPA?
Mari kita luruskan satu hal: sapi menghasilkan metana karena tubuhnya bekerja sebagaimana mestinya. Mereka nggak sedang merancang krisis iklim. Nggak sedang rapat menentukan target emisi. Nggak juga memilih untuk dilahirkan dalam sistem produksi massal. MANUSIA YANG MENENTUKAN berapa banyak ternak dipelihara, bagaimana mereka dibesarkan, dan seberapa besar produksi terus digenjot untuk memenuhi permintaan.
Semakin banyak hewan diternakkan, semakin besar potensi emisinya; meskipun besarnya tetap dipengaruhi jenis hewan, pakan, produktivitas, dan cara pengelolaannya.
Dan ini bagian yang ironis, hewan yang ikut menghasilkan emisi dari sistem tersebut juga harus menghadapi dampak krisis iklimnya. Gelombang panas bisa memicu stres pada hewan. Kekeringan bisa mengurangi ketersediaan air dan pakan. Cuaca ekstrem bisa mengancam kesehatan, kesejahteraan, bahkan kelangsungan hidup mereka. Mereka bukan penyebab yang bisa kita salahkan begitu saja. Mereka juga ikut menanggung akibatnya.
Jadi, persoalannya bukan sekadar kentut, sendawa atau kotoran sapi. Kita perlu ngobrolin sistem produksi pangan yang dibangun manusia, dampaknya terhadap bumi, dan kehidupan yang ikut dikorbankan di dalamnya. Sistem yang mengeksploitasi hewan juga beroperasi di dunia yang sedang kita rusak bersama.
Krisis iklim bukan salah sapi. Tapi mempertahankan sistem yang memperparahnya tanpa mempertanyakan dampaknya? Nah, itu baru urusan manusia.
