Berbagi Dukungan Untuk Warga Terdampak Pandemi
Sebanyak 100 paket bantuan bahan makanan pokok dibagikan oleh organisasi Animal Friends Jogja (AFJ) kepada warga terdampak pandemi COVID-19 di sekitar rumah singgah. Pandemi Covid-19 berdampak hampir ke semua lini masyarakat. Berkurangnya pemasukan membuat banyak warga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dengan semangat kebersamaan, para relawan AFJ menginisiasi pemberian bantuan yang dikemas dalam acara “DARI AFJ UNTUK SESAMA #WereInThisTogether” dengan dana pribadi para relawan, AFJ mengumpulkan 100 paket bantuan yang berisi beras, gula, teh dan masker untuk warga sekitar rumah singgah.
AFJ melakukan ini berkoordinasi dengan warga desa setempat, yang bersama relawan AFJ, membagikan bantuan kepada warga yang membutuhkan, terutama mereka yang ekonominya paling terdampak oleh pandemi. Relawan juga mendata warga yang memiliki satwa dampingan (anjing atau kucing) untuk program sterilisasi bersubsidi.
Bakti Sosial ini adalah kegiatan tahunan Animal Friends Jogja sebagai bagian dari warga masyarakat. Tahun sebelumnya, kegiatan dilakukan terpusat di satu tempat. Namun melihat kondisi Pandemi, pembagian bahan makanan dilakukan langsung dari rumah ke rumah, dan tetap menerapkan standar keamanan COVID-19 seperti tidak berkerumun, mengenakan masker dan menjaga jarak minimal satu meter (physical distancing). Paket bingkisan juga dikemas dalam wadah kertas. Ini adalah komitmen AFJ dalam meminimalkan sampah plastik pada setiap kegiatan.
Dengan kegiatan ini Animal Friends Jogja juga bermaksud mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya sterilisasi satwa dampingan, untuk melakukan kontrol populasi hewan. Hingga saat ini sterilisasi adalah solusi paling manusiawi yang bisa mencegah kasus penelantaran satwa. AFJ juga mencatat ada peningkatan hewan dibuang, terutama kucing, selama masa pandemi ini.
Dari laporan warga yang AFJ terima, baik berupa informasi hewan dibuang, konsultasi penyelamatan hewan atau konsultasi mendapatkan orang tua asuh untuk hewan, kenaikan kasus pembuangan kucing meningkat 67% dari masa sebelum pandemi. Kebanyakan kucing yang dibuang berusia bayi, yang sangat rentan terserang penyakit karena imun tubuhnya yang masih bergantung ke susu dari induknya. Bayi kucing yang dibuang ada yang dimasukan ke dalam kantong kresek, dan diletakkan di tempat sampah depan rumah warga. Ada juga yang dimasukkan dalam kardus dan dibuang di semak-semak tepi jalan, yang berisiko tertabrak jika bayi kucing keluar dan menyeberang jalan.
Di hari yang sama dengan kegiatan baksos AFJ, kami menerima informasi dari relawan yang menemukan bayi kucing dibuang dengan tubuh sudah dipenuhi belatung. Tubuhnya sangat lemah, menderita scabies, dan luka-luka terbukanya sudah dikerumuni belatung. Ada tanda rambutnya pernah dicukur, seperti untuk mendapat perawatan sakit kulit. Mungkin dia dibuang karena pendampingnya tidak sanggup melanjutkan perawatan. Kucing kemudian dilarikan ke klinik hewan, namun tidak bertahan setelah 12 jam mendapatkan perawatan intensif.
Ini adalah kondisi umum yang menimpa bayi-bayi kucing yang dibuang. Karenanya AFJ selalu menyuarakan pentingnya sterilisasi kucing, karena setiap bulan ada saja laporan kucing dibuang yang kami terima. Kasus pembuangan kucing merupakan fenomena gunung es, laporan yang AFJ terima hanya bagian kecil yang nampak di permukaan, di bawah permukaan ada lebih banyak kasus yang tidak tercatat baik itu bayi kucing yang dibuang, dengan atau tanpa induknya, penyiksaan kucing, pencurian, sampai peracunan.
Kami akan terus melakukan tugas kami untuk meningkatkan kesejahteraan satwa dan memperluas ide-ide kasih sayang dan welas asih ke semakin banyak orang, dan semoga..semoga saja, kasus-kasus penelantaran akan semakin sedikit seiiring semakin sadarnya manusia akan kasih sayang ke semua makhluk.
