Bayangkan Kamu Naik Kapal Selama Berminggu-Minggu, Tapi Nggak Tahu Kapan Berhenti!
Coba bayangkan, kamu harus naik kendaraan selama berminggu-minggu dalam kondisi berdesakan dengan yang lain, kepanasan, nggak cukup makan dan minum, dan nggak tahu kapan perjalanan ini akan berakhir. Ngeri, kan?
Nah, itulah yang dialami jutaan hewan diternakkan setiap tahunnya, dalam praktik yang disebut ekspor hewan hidup. Dan sekarang, Animal Friends Jogja (AFJ) bersama sederet organisasi perlindungan hewan dari seluruh dunia sedang menyuarakan satu hal: CUKUP! SAATNYA PRAKTIK INI DIHENTIKAN!
Sebenarnya, Apa Sih Masalahnya?
Setiap tahun, jutaan hewan diternakkan, seperti sapi, domba, kambing, diangkut lewat jalur laut dan darat dalam perjalanan yang panjang dan berat. Bukan hitungan jam, tapi berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Selama itu, mereka berdesakan dalam ruang yang sempit, menghadapi suhu ekstrem, kelaparan, dehidrasi, sampai cedera. Buat sebagian dari mereka, perjalanan itu berujung kematian.
Ironisnya, mereka diperlakukan seolah bukan makhluk hidup yang punya rasa sakit dan ketakutan, melainkan hanya sebatas muatan kargo yang gampang dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Itu sebabnya, koalisi global yang dipimpin Compassion in World Farming ini mengirim surat terbuka, mendesak World Organisation for Animal Health (WOAH) badan kesehatan hewan dunia, untuk memperketat standar kesejahteraan hewan dalam transportasi, dan mulai mengambil langkah nyata mengakhiri perjalanan jarak jauh yang menyiksa ini.
Momennya Pas Banget!
Surat ini sengaja dikirim menjelang Hari Kesadaran Internasional Penghapusan Ekspor Hewan Hidup (Ban Live Exports International Awareness Day). Kebetulan banget, ini bertepatan dengan momen WOAH sedang merevisi pedoman global soal transportasi hewan. Padahal, standar yang dipakai sekarang itu usianya sudah belasan tahun, jauh ketinggalan dari perkembangan ilmu kesejahteraan hewan terkini.
Makanya, para penggagas surat ini mendesak perwakilan veteriner dari 183 negara anggota WOAH untuk segera memperbarui standar tersebut, sekaligus mulai memikirkan penghapusan bertahap transportasi hewan hidup jarak jauh.
Indonesia juga kebagian "PR" di sini. Animal Friends Jogja (AFJ) secara khusus mendorong Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian, selaku perwakilan Indonesia di WOAH, untuk ikut aktif dalam proses ini dan mendorong aturan perlindungan hewan yang lebih ketat di dalam negeri.
"Yaa Kan Memang Harusnya Begitu?" Eh, Nggak Juga!
Salah satu poin penting dari kampanye ini adalah ekspor hewan hidup itu sebenarnya bukan satu-satunya pilihan. Ada alternatif yang jauh lebih manusiawi (atau lebih tepatnya, lebih 'berperikehewanan'), yaitu memperdagangkan daging dan karkas, atau material genetik untuk pembiakan. Cara ini sama-sama efisien secara bisnis, tapi nggak mengorbankan kesejahteraan hewan di sepanjang jalan.
Ketika Tragedi Jadi Berita Biasa
Yang bikin isu ini makin mendesak, kejadian-kejadian buruk terus berulang. Bulan lalu saja, sekitar 4.000 domba dan kambing mati di lepas pantai Oman. Dan ini bukan kejadian pertama, surat tersebut menyebutnya sebagai bagian dari "bencana berulang" yang sudah merenggut puluhan ribu nyawa hewan. Entah karena kapal kecelakaan, tenggelam, atau terjebak di wilayah konflik di tengah perjalanan.
Selain soal kemanusiaan, ada juga risiko yang menyentuh kita langsung: kesehatan masyarakat. Kondisi pengangkutan yang padat dan nggak higienis, ditambah daya tahan tubuh hewan yang menurun selama perjalanan panjang, bisa jadi ladang subur buat penyebaran penyakit zoonosis; penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia, lintas negara pula.
Negara Lain Sudah Mulai Bergerak
Kabar baiknya, ini bukan perjuangan yang berangkat dari nol. Beberapa negara sudah lebih dulu mengambil langkah konkret. Inggris, misalnya, resmi melarang ekspor hewan hidup untuk tujuan penggemukan dan pemotongan sejak 2024, demi alasan kesejahteraan hewan. Selandia Baru, Australia, dan Jerman juga sudah menerapkan berbagai bentuk larangan atau pembatasan serupa. Artinya, ini bukan ide yang mustahil dijalankan, tapi sudah ada presedennya.
Suara dari Mereka yang Berjuang di Garis Depan
Dwi Octavia, Manajer Kampanye Advokasi Kesejahteraan Hewan yang Diternakkan Animal Friends Jogja (AFJ), menyampaikan keresahannya:
“Setiap tahun, jutaan hewan yang diternakkan dipaksa menjalani perjalanan panjang yang menyebabkan penderitaan luar biasa. Praktik ini tidak lagi dapat dibenarkan, terutama ketika tersedia alternatif perdagangan yang lebih aman. Revisi standar transportasi hewan oleh WOAH merupakan momentum penting untuk memperkuat perlindungan kesejahteraan hewan secara global dan mendorong penghentian bertahap ekspor hewan hidup jarak jauh.”
Senada dengan itu, Charlotte Reid, Wakil Direktur Kampanye Global di Compassion in World Farming, menegaskan:
“Hewan adalah makhluk hidup yang memiliki kesadaran dan kemampuan merasakan, bukan sekadar muatan kargo. Tidak ada alasan yang dapat membenarkan penderitaan jutaan hewan yang dipaksa menjalani perjalanan panjang dan melelahkan ini setiap tahun.”
Menurutnya, momen revisi standar oleh WOAH ini adalah kesempatan emas bagi negara-negara anggota untuk benar-benar mengakhiri praktik yang sudah lama dianggap kejam ini. Memperkuat pedoman memang langkah penting, tapi ujungnya, ekspor hewan hidup harus dilarang total agar praktik ini bisa benar-benar jadi catatan sejarah, bukan kenyataan yang terus berulang.
Jadi, Sekarang Apa?
Dengan jutaan hewan yang terus menderita setiap tahun akibat perjalanan jarak jauh ini, AFJ menilai sudah saatnya perubahan nggak ditunda-tunda lagi. Proses revisi standar oleh WOAH menjadi momen penting bagi negara-negara anggotanya termasuk Indonesia untuk benar-benar memperkuat perlindungan kesejahteraan hewan, dan mulai serius melangkah menuju penghapusan bertahap ekspor hewan hidup.
Karena pada akhirnya, kesejahteraan hewan bukan cuma urusan mereka yang bekerja di bidang ini tapi soal bagaimana kita, sebagai manusia, memilih memperlakukan makhluk hidup lain yang nggak punya “suara” untuk membela diri sendiri.
