wrapkit

Ayam Goreng: But I Cannot Do Without

Ayam Goreng: But I cannot do without

Meat consumption and its consequences

By Esther Schleppegrell
 

For all the meat lovers out there: Can you imagine how many chicken you eat in your life? And how many chickens did you see in your life? Have you ever thought about where the meat you eat comes from?

The Livestock and Animal Health Statistic[1] proves the population of poultries is 300 million for native chicken and even 1.8 billion for broilers in year 2018. That makes more than 2 billion chicken in Indonesia in one year. To make meat as cheap as possible most of them live in small sheds unlit they get transported to the slaughterhouses. Their life ends after 35 days: enough to put on weight and to be profitable for the economy. Layer hens have a longer but not a better life. A chicken’s cage is around as big as an A4 paper. No chance to move or spread their wings. After 18-20 month they are sold to the meat production.

Layer hens in East Java
A cow’s life is comparable. They get between 4.5 – 5 years old. In their stables they are tied so they cannot move a lot. A chicken’s and a cow’s life end in fear. They are carried in trucks to the slaughterhouses. That causes a lot of stress. Besides the unfair treatment hormones of stress are inside their meat. They also get inside the consumers body. But it is not only unhealthy to eat hormones of fear. Meat is full of antibiotics too. Most of the animals are treated with antibiotics before they are sick to prevent illnesses. It makes their meat to a product of un-healthiness.

For quite sometimes , Indonesian society believe that eating meat is a symbol of wealth. Where only rich and smart people can afford to buy meat as healthy food. This view is created by historical social construct . But the today’s meat production changed it all. Meat is not that healthy anymore, thanks to inhumane industrial farming, antibiotics and hormone injections . Moreover, it is easy to eat alternatively. Carbohydrate and lots of minerals and vitamins are already known, come from plant based food sources . And proteins are found in several products that you can order everywhere: tempeh, tofu and edamame. Also, potatoes, nuts, sunflower seeds and all legumes are a source of proteins and contain less fat than meat.

Even our environment benefits from reducing meat consumption. If you want to act against climate change, stop eating meat is maybe the simplest way to help our mother earth. One example: About seven football fields of land are bulldozed worldwide every minute to make space for raising animals. Furthermore, a lot of crops are needed to feed them. If we would eat the plants instead of feeding farm animals, we wouldn’t need nearly as much space as we need now. Same with water. 10.000 litres of water are used to produce one pound of meat but only 100 litres to produce the same amount of wheat.

But you like meat so much? You cannot imagine living without eating meet? Do it step-by-step. Before your meal question yourself if you really want to eat meat. Maybe you are satisfied with some tofu, tempeh or edamame instead. And most important: think about the animals, about your body and about climate change. Be conscious! Open your mind before you open your mouth!

 


[1] Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan 2018, Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. (2018)



Esther Schleppegrell is an International Relations Students from Germany. She has an interest in environmental issues and is involved in several Social-Environmental NGOs in Israel and Indonesia.

 

 

 

 

 


Ayam Goreng: Enak sih, tapi…

Konsumsi daging dan konsekuensinya

Oleh:  Esther Schleppegrell


Untuk semua penikmat daging: bisakah kalian membayangkan berapa ekor ayam yang kamu makan seumur hidupmu? Dan berapa ekor yang hidup yang kamu lihat seumur hidup mu? Pernahkah kamu berpikir, dari mana daging-daging yang kamu makan setiap hari itu berasal?

Ayam Petelur di Jawa Timur doc.AFJ

Menurut Statistik Hewan dan Peternakan[1], populasi ayam di peternakan di Indonesia mencapai 300 juta jiwa ayam kampung (buras) dan 1,8 miliar ayam broiler di tahun 2018. Yang artinya ada lebih dari 2 miliar ayam ayam dikonsumsi di Indonesia pada tahun 2018 saja. Dan untuk menekan biaya produksi daging, sebagian besar dari 2 miliar ayam tersebut ditempatkan di kandang-kandang sempit sampai mereka diangkut ke rumah-rumah penjagalan. Hidup mereka harus berakhir setelah 35 hari, ketika  mereka sudah memiliki bobot yang dinilai menguntungkan secara ekonomis. Nasib ayam petelur memiliki hidup yang lebih panjang, namun penderitaan mereka tidak jauh berbeda. Kandang untuk ayam petelur didesain sedemikian rupa, berukuran seluas kertas HVS A4. Tidak mungkin bagi mereka untuk bergerak, atau sekedar mengepakkan sayap. Setelah 18-20 bulan, mereka dijual ke penjagalan. 

Masa hidup sapi juga serupa.  Hidup mereka harus berakhir ketika mereka  berusia antara 4.5 – 5 tahun. Mereka diikat di dalam kandang-kandang mereka agar tidak banyak bergerak. Kehidupan ayam dan sapi harus berakhir dengan ketakutan. Mereka dibawa di dalam truk-truk ke rumah jagal, yang membuat mereka mengalami stres hebat selama perjalanan. Karena  perlakukan tidak adil tersebut, hormon stres memenuhi daging-daging mereka, yang akhirnya masuk ke tubuh konsumen mereka.  Tidak hanya hormon stres yang tidak baik untuk dikonsumsi, daging-daging tersebut juga dipenuhi dengan antibiotik. Hampir semua hewan ternak, disuntik dengan antibiotik sebelum mereka sakit untuk menangkal penyakit, menjadikan daging-daging itu sebuah produk dari praktek yang jauh dari nilai-nilai kesehatan.

Untuk beberapa waktu, masyarakat Indonesia percaya bahwa makan daging adalah simbol kesejahteraan, di mana hanya orang-orang kayalah mampu membeli daging yang bernutrisi dan dianggap makanan yang sehat. Namun pandangan ini diciptakan melalui persepsi masyarakat. Produksi daging di masa kini sudah jauh berbeda. Daging tidak lagi pantas disebut makanan sehat. Semua itu karena praktek kejam yang dilakukan di dalam industri produksi daging, penyuntikan hormon dan antibiotik. Lagi pula lebih mudah untuk mengonsumsi alternatif lain. Karbohidrat dan banyak mineral dan vitamin seperti yang sudah kita ketahui, berasal dari sumber nabati. Dan protein, ditemukan di banyak produk-produk yang bisa kamu temui di mana saja: tempe, tahu dan kacang-kacangan. Juga kentang, biji-bijian dan legu alah sumber protein yang melimpah sekaligus mengandung lebih sedikit lemak dibandingkan daging.

Lingkungan kita juga mendapatkan manfaat dari mengurangi konsumsi daging. Jika kamu ingin melakukan sesuatu untuk melawan pemanasan global, berhenti makan daging mungkin merupakan cara yang paling sederhana untuk menyelamatkan bumi. Satu contoh: sekitar 7 kali luas lapangan bola harus diratakan di seluruh dunia setiap menitnya untuk menyediakan ruang untuk peternakan. Lebih lanjut, dibutuhkan banyak tanaman pangan untuk memberi makan mereka semua. Jika kita memakan sendiri tanaman pangan itu alih-alih untuk industri peternakan, kita tidak akan membutuhkan ruang sebanyak yang kita butuhkan sekarang. Begitu juga dengan air. Sedikitnya dibutuhkan 10.000 liter air untuk memproduksi 1 pon daging, dan hanya 100 Liter dibutuhkan untuk memproduksi gandung dengan jumlah nutrisi dan kalori yang sama.

Tapi kamu suka daging? Dan tidak bisa membayangkan hidup tanpa makan daging? Cukup lakukan selangkah demi selangkah. Sebelum kamu bertanya kepada diri kamu sendiri apakah kamu benar-benar ingin makan daging. Mungkin kamu akan cukup terpuaskan dengan tempe, tahu atau kacang-kacangan saja. Dan yang terpenting adalah: pikirkan nasib para hewan, pikirkan kesehatan kamu dan pikirkan tentang lingkungan. Bijaksanalah. Buka pikiranmu sebelum membuka mulutmu.

 


[1] Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan 2018, Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. (2018)


Esther Schleppegrell adalah seorang pelajar Hubungan Internasional dari Jerman. Dia memiliki ketertarikan dengan isu-isu lingkungan dan berkecimpung dalam beberapa LSM Sosial-Lingkungan di Israel dan Indonesia.

wrapkit

We are simply friends who share similar views on treating non human animals with the respect and compassion they so rightly deserve.

Including the right to live free from unnecessary suffering and exploitation.

Reach us on Social Media

Our location is strictly unpublished due to safety and educational reason. To visit us, please make an appointment by sending us a request email. Make sure you have read our FAQ section before sending an email. It might need time until we finally keep-in-touch

This site is donated by Oninyon Software Solution - PT. Oninyon Revolusi Kreatif Indonesia